Gerakan dan Bacaan Shalat Nabi

Shalat adalah rukun kedua setelah mengucapkan dua kalimat syahadat. Dikatakan rukun maknanya tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apapun setelah baligh,  kecuali ada uzur seperti haid,nifas,koma,gila, tidur ,belum baligh dan tidak bisa shalat( meninggal).

Shalat adalah ibadah yang telah dipraktekkan langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di depan para sahabatnya. Tidak ada yang disembunyikan tata caranya di depan mereka. Baik istri-istrinya, keluarga maupun orang lain dari kalangan sahabat. Disaat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mempraktekkan ibadah shalat,  beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  lantas bersabda kepada para sahabatnya :

عَنْ أَبِي قِلَابَةَ ، عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ قَالَ : أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَفَرٍ مِنْ قَوْمِي وَنَحْنُ شَبَبَةٌ ، فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفِيقًا، فَلَمَّا رَأَى شَوْقَنَا إِلَى أَهْلِينَا قَالَ : ” ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَكُونُوا فِيهِمْ، فَمُرُوهُمْ وَعَلِّمُوهُمْ، وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي، وَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ، ثُمَّ لْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ “.

“Dari Abi Qilabah dari Malik bin Huwairis ia berkata : aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sekumpulan kaumku, kami semua para pemuda,  lalu kami menginap di tempat beliau selama 20 hari, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rekan yang baik hati, saat ia melihat kerinduan kami kepada keluarga kami, beliau bersabda ” pulanglah kalian, menetapalah bersama mereka, suruhlah mereka shalat dan ajarilah mereka shalat dan SHALATLAH KALIAN SEPERTI KALIAN MELIHATKU SHALAT“,maka apabila sudah datang waktu shalat,maka kumandangkan adzan salah satu kalian lalu pilihlah imam yang paling tua diantara kalian”HR. Ad-Darimi dan Bukhari

Kalimat”shalatlah kalian seperti kalian melihatku shalat” mengindikasikan wajibnya mengikuti tata cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam dari takbiratul ikhram hingga salam.

A. Cara Angkat Tangan

Ada 2 cara :

1. Angkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahu. Dalilnya :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ، وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا، وَقَالَ : ” سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ “. وَكَانَ لَا يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ.

” Bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam mengangkat du tangannya sejajar dengan kedua bahunya saat( 1.) membuka shalat/ takbiratul ikhram, (2) saat akan ruku, (3) mengangkat kepalanya dari ruku sambil mengucapkan ‘samiallahu liman hamidah,rabbanaa walakal hamd’ , tapi beliau tidak lakukan saat hendak sujud. HR. Bukhari no 735.

2. Angkat kedua tangan sejajar dengan telinga.

عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ،وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَاأُذُنَيْهِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، فَقَالَ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ.

” Dari Malik bin Huwairis bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila bertakbir beliau mengangkat dua tangan hingga sejajar dengan kedua telinga dan apabila ruku beliau menganhkat dua tangan hingga sejajar dengan kedua telinganya dan beliau melakukan hal itu juga saat mengangkat kepalanya dari ruku dan membaca ‘samiallahu liman hamidah’HR. Muslim no 391.

B. Bersedekap di atas dada

sedekap

Bersedekap di dalam shalat dilakukan setelah takbiratul ikhram dan diletakkan di atas dada. Sebagaimana riwayat berikut :

عَنْ طَاوُسٍ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضَعُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى، ثُمَّ يَشُدُّ بَيْنَهُمَاعَلَى صَدْرِهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ.

” Dari Thawus, ia berkata: bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat shalat meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya dan menempatkan kedua tangannya di atas dada. HR. Abu Dawud dengan derajat hadits shahih. Adapun riwayat bersedekap di bawah pusar, para ulama sepakat bahwa hadits tersebut DHAIF(lemah).

Ada beberapa cara bersedekap sesuai sunnah Nabi :

📗Tangan kanan diletakkan dipunggung, pergelangan atau dipunggung telapak tangan kiri. Sebagaimana hadits berikut ini:

ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ الْيُسْرَى وَالرُّسْغِوَالسَّاعِدِ

lalu beliau meletakkan tangan kanannya di punggung telapak tangan kiri, lengan atau di pergelangan atau di lengan ” HR. Abu Dawud no 726-727, Ahmad no 18870 dan an-Nasai no 889.

📘Tangan kanan memegang tangan kiri sebagaimana hadits Alqamah bin Wail

PicsArt_05-31-09.22.39

حَدَّثَنَاعَلْقَمَةُ بْنُ وَائِلٍ ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ قَائِمًا فِي الصَّلَاةِ قَبَضَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ.

” Alqamah bin Wail telah mengabarkan kepada kami dari ayahnya, ia berkata : Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila ia berdiri di dalam shalat ia memegang tangan kirinya dengan tangan kanannya “HR. An-Nasai no 887 dengan derajat shahihul isnad. 

C. Doa Iftitah

Doa iftitah bukan hanya satu kalimat, namun ada beberapa riwayat yang menyatakan demikian. Diantara riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

” Ya Allah jauhilah aku dengan kesalahanku, sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat, ya Allah bersihkanlah diriku dari kesalahan sebagaimana pakaian putih bersih dari kotoran, Ya Allah bersihkanlah kesalahanku dengan air, salju dan air dingin”HR. bukhari juz 1/181 no 744.

Baca doa iftitah lain di sini

D. Pandangan ke tempat sujud

Para ulama berijma tentang sunnahnya khsusu’dan merendahkan diri di dalam shalat dan menundukkan pandangan serta dimakruhkan menoleh di dalam shalat dan memandang sesuatu di depannya baik yang dekat atau jauh. Memandang ke tempat sujud baik saat berdiri maupun saat duduk

Sedangkan hadits Nabi yang menyatakan pandangan Rasul saat shalat ke tempat sujud berdasarkan riwayat Asiyah :

دَخَلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الْكَعْبَةَ وَمَا خَلَّفَ بَصَرُهُ مَوْضِعَ سُجُوْدِهِ حَتَّى خَرَجَ مِنْهَا . رَواهُ الْحَاكِمُ و الْبَيْهَقِيْ و صَححه الحاكم

” Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam masuk kabah (untuk mengerjakan shalat) dalam keadaan pandangan beliau tidak meninggalkan tempat sujudnya hingga keluar dari kabah ” HR. Baihaqi dan Hakim menshahihkan hadits ini.

Pengecualian pada saat tasyahhud dan waktu dalam keadaan perang. Adapun waktu tasyahhud yang dilihat adalah jari telunjuknya saat beriyarat. Sebagaimana riwayat di bawah ini:

PicsArt_05-31-09.42.51

 عَنْعَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ ، عَنْ أَبِيهِ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَعَدَ فِي التَّشَهُّدِ وَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ لَا يُجَاوِزُ بَصَرُهُ إِشَارَتَهُ.

” Dari Amir bin Abdullah bin Zubair dari ayahnya, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila duduk untuk tasyahhud ia meletakkan tangan kirinya di paha kirinya dan berisyarat dengan jari telunjuknya yang PANDANGANNYA TIDAK MELEWATI DARI ISYARATNYA” HR. An-Nasai denga derajat hadits’ hasan shahih ‘.

Dan waktu perang boleh tidak melihat tempat sujud berdasarkan firman Allah pada surat an-Nisa ayat 71

خُذُوْا حِذْرَكُمْ

” Bersiap siagalah kamu”

Dari hadits pada kisah Sahl bin Handhaliyyah

عَنْ سَهْلِ ابْنِ الْحَنْظَلِيَّةِقَالَ : ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ – يَعْنِي صَلَاةَ الصُّبْحِ – فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَهُوَ يَلْتَفِتُ إِلَى الشِّعْبِ .
قَالَ أَبُو دَاوُدَ : وَكَانَ أَرْسَلَ فَارِسًا إِلَى الشِّعْبِ مِنَ اللَّيْلِ يَحْرُسُ.

” Dari Sahl bin Handhaliyyah,  ia berkata : shalat subuh!, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat sambil melirik ke syib(jalan setapak diantara dua bukit) ” Abu Dawud berkata : Beliau mengutus penunggang kuda ke Syi’b pada suatu malam untuk berjaga. HR. Abu Dawud dengan derajat hadist”shahih”

E. Ruku

Ruku dilakukan setelah selesai membaca surat pada rakaat pertama dan kedua. Atau selesai membaca alfatihah pada rakaat ketiga dan keempat. Adapun ruku yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memegang kedua lutut dan kepala disejajarkan dengan punggung badan. Temukan di edisi berikutnya..

Iklan
Kategori:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s